Frans Dione's Weblog Rotating Header Image

MENGEMBANGKAN DAYA TARIK INVESTASI PROVINSI BENGKULU

Suram dan memprihatinkan, itulah kata yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi dunia investasi di propinsi Bengkulu. Fakta dan data menunjukkan dengan jelas mengenai kondisi ini.  Sampai dengan awal tahun ini selama 5 tahun terakhir hampir dapat dikatakan tidak ada investasi di propinsi Bengkulu, kalaupun ada hanya Investor lama yang berinvestasi untuk memelihara asetnya yang “terlanjur” diinvestasikan di propinsi Bengkulu. Berdasarkan data BKPMD Propinsi Bengkulu, Investor terakhir yang menanamkan modalnya di Bengkulu adalah PT Agro Muko, realisasi investasi pada 18 Januari 1999 dengan kategori PMA. Total nilai investasi perusahaan tersebut berjumlah US $ 31.625.000, dengan bidang usaha perkebunan sawit, kakao dan coklat.

Berbagai upaya dan usaha sebenarnya telah dilakukan oleh Pemerintah Daerah baik Kota/Kabupaten maupun Propinsi untuk menarik para Investor agar mau menanamkan uangnya di Bengkulu. Upaya tersebut mulai dari penyebarluasan informasi tentang potensi Bengkulu, lobi, sampai dengan mengadakan temu bisnis dengan para calon investor. Sebagai puncak upaya tersebut adalah pada saat rapat koordinasi Gubernur se-Sumatra beberapa bulan yang lalu, yang  dihadiri oleh  para pengusaha se-Sumatra bahkan juga dari Singapura untuk mengadakan temu bisnis, para pengusaha Singapura tersebut sengaja datang ke Bengkulu dengan mencarter satu pesawat khusus.  Namun sampai dengan saat ini usaha-usaha tersebut baru menghasilkan MOU (Memorandum of Understanding) belum membuahkan hasil yang nyata. Baru satu Investor yang sudah menandatangai MOA (Memorandum of Action) yaitu Shamid International namun jika dikaji lebih jauh action-nya baru sebatas ekplorasi belum eksploitasi.

Menurut Penulis suramnya dunia investasi di propinsi Bengkulu dikarenakan rendahnya daya tarik investasi propinsi Bengkulu. Oleh sebab itu promosi, temu bisnis, lobi dan usaha lainnya yang dilakukan oleh Pemda Propinsi/Kabupaten dan Kota belumlah cukup untuk mengundang Investor datang ke Bengkulu. Usaha untuk mengundang Investor haruslah diimbangi dengan usaha untuk memperbaiki kondisi real daya tarik investasi Daerah Bengkulu. Dalam sebuah publikasi pada awal tahun lalu, yang dikeluarkan oleh KPPOD (Komite Pemantau Penyelenggaraan Otonomi Daerah) dari 134 daerah yang dinilai Kota Bengkulu menempati peringkat 98 dan Kabupaten Bengkulu Selatan (sebelum pemekaran) menempati peringkat 121 dari bawah dalam hal daya tarik investasi.  Tidak disebutkan mengenai peringkat Bengkulu Utara dan Rejang Lebong dalam publikasi tersebut. Namun kalaupun diteliti hasilnya tidak akan jauh berbeda termasuk kelompok papan bawah.

Kalau rendahnya angka investasi di Bengkulu dikarenakan rendahnya daya tarik investasi maka usaha yang seharusnya dilakukan adalah bagaimana mengembangkan daya tarik investasi di wilayah Bengkulu. Menurut Penulis ada 4 (Empat) Faktor dominan yang mempengaruhi daya tarik investasi di suatu daerah yaitu : Kebijakan Daerah, Potensi Ekonomi Daerah, Infrastruktur Fisik serta faktor  Keamanan. Paparan selanjutnya dalam tulisan ini akan menguraikan ke-empat faktor dominan tersebut dikaitkan dengan kondisi real propinsi Bengkulu.  Faktor pertama dan utama yang mempengaruhi  daya tarik investasi adalah Kebijakan Daerah itu sendiri. Kebijakan Daerah akan tercermin dalam Peraturan Daerah. Dalam era otonomi daerah, Daerah dituntut untuk lebih mampu membiayai penyelenggaraan pembangunan dan pelayanan publik di Daerahnya. Cara yang paling mudah adalah dengan berusaha untuk meningkatkan PAD (Pendapatan Asli Daerah). Namun kreatifitas dalam meningkatkan PAD inilah yang sering menimbulkan permasalahan. Selama tiga tahun pelaksanaan Otonomi Daerah banyak ditemukan Perda bermasalah. Sampai dengan Desember 2003 dalam satu kajian dan evaluasi oleh Departemen Dalam Negeri terhadap 3312 Perda, 452 diantaranya bermasalah. Umumnya Perda bermasalah tersebut mengandung muatan kebijakan untuk meningkatkan PAD dengan membebankannya pada masyarakat dan dunia usaha sehingga menimbulkan ekonomi  biaya tinggi (high cost economic). Untuk sekedar mengemukakan contoh tentang Kebijakan Daerah yang berindikasi “bermasalah” adalah rencana pembatasan operasi kenderaan non BD oleh Pemda propinsi dan rencana pengenaan restribusi pagar rumah oleh Pemda Kota Bengkulu.  Alih-alih untuk meningkatkan PAD, kedua kebijakan tersebut justru akan mengurangi minat investor menanamkan modalnya di Bengkulu. Kecilnya PAD seharusnya tidak selalu dijawab dengan menaikkan tarif serta menambah jenis Pajak dan Restribusi Daerah. Hal ini malah “menakutkan” para Investor. Kalau itu yang dilakukan maka wajar sering muncul keluhan bahwa Investor ibarat ayam, belum bertelur sudah disembelih. Pemerintah Daerah dan DPRD seharusnya memformulasikan Perda/Kebijakan Daerah yang dapat menciptakan kondisi yang kondusif untuk berinvestasi, misalnya dengan memberikan kemudahan perizinan usaha dan insentif keringanan Pajak dan Restribusi Daerah. Walaupun kita sependapat pada saatnya nanti Investor pun harus memberikan kotribusi terhadap PAD, namun tentu pada saat usahanya sudah berkembang dan berjalan dengan baik.

Faktor Kedua daya tarik investasi adalah faktor Potensi Ekonomi Daerah. Potensi Ekonomi Daerah yang berkaitan dengan sumber daya alam terutama yang tidak dapat diperbaharui lebih merupakan “endowment” atau anugrah. Kita pantas bersyukur karena perut bumi Bengkulu mengandung kekayaan yang melimpah. Untuk bahan galian golongan A misalnya kita memiliki cadangan batubara 300 juta metrik ton, minyak, emas, serta energi panas bumi. Barang tambang galian C kita memiliki cadangan batu kapur, obsidian, granit, kaolin, bentonit, tras, andesit, pasir kuarsa dan lain sebagainya.  Tentu sebagai manusia kita tidak dapat berintervensi untuk menambah jumlah kandungan mineral tersebut. Namun yang penting bagi para calon Investor adalah berapa jumlahnya? bagaimana kualitasnya? dan dimana sebarannya?. Oleh sebab itu Kita harus memiliki data yang akurat, mapping atau pemetaan yang jelas dan bila perlu dengan sample atau contoh serta hasil penelitian laboratorium.

Dari segi geografis bentang alam Bengkulu membujur di pantai Barat Sumatra, secara ekonomis mungkin letak ini kurang menguntungkan karena relatif jauh dari jalur perdagangan utama dunia yaitu Selat Malaka, namun kita tetap memiliki keunggulan karena umumnya kondisi yang berbukit-bukit di jajaran Bukit Barisan membuat Bengkulu kaya dengan sumber daya air dan obyek wisata alam. Potensi sumber air propinsi Bengkulu sangat besar yaitu      2,3 Triliun liter per tahun (Syafrin Tiaif ; 1999). Investor bidang air minum di Jambi dan Palembang untuk memperoleh air minum diperoleh dengan cara membuat sumur bor dengan biaya ekploitasi yang besar, sementara di daerah kita cukup dengan mencari mata air dengan debit yang memadai dan membuat bak penampung atau cek dam. Sementara dari segi obyek wisata alam hampir setiap Kabupaten memiliki obyek wisata alam yang khas, indah dan asli (indigenous).  Dengan potensi tersebut kita dapat mengembangkan wisata alam dengan segala macam turunannya. 

Faktor selanjutnya yang dominan  mempengaruhi daya tarik invetasi adalah infrastruktur fisik transportasi seperti jalan, jembatan, pelabuhan laut dan bandara. Faktor ini penting karena pada dasarnya biaya produksi akan secara signifikan dipengaruhi oleh besaran biaya yang dikeluarkan untuk transportasi. Biaya yang dikeluarkan untuk transpor akan sangat bergantung pada jarak dan waktu. Upaya yang seharusnya kita lakukan adalah bagaimana memperpendek jarak dan mempersingkat waktu tempuh. Seperti pernah disinggung di depan bahwa secara geografis letak Bengkulu kurang menguntungkan karena jauh dari jalur utama perdagangan dunia di pantai timur Sumatra. Oleh sebab itu harus ada “jalan pendekat” ke Timur Sumatra melalui Lintas Tengah Sumatera. Langkah pertama yang dapat ditempuh adalah dengan meningkatkan ruas jalan yang sudah ada dan membangun jalan baru. Ruas jalan yang perlu ditingkatkan adalah jalur Curup-Lubuk Linggau, Kepahyang-Pagar Alam, Manna-Tanjung Sakti. Upaya peningkatan dapat dilakukan dengan perbaikan, penebalan, pelebaran dan jika perlu pelurusan, untuk yang terakhir tidak ada salahnya kita mencontoh Sumatra Barat dengan meluruskan ruas-ruas tertentu antara      Solok-Padang sehingga jarak dan waktu tempuh bisa lebih singkat. Langkah kedua  adalah dengan membangun jalan baru. Alternatif yang dapat dipilih adalah membangun Jalan baru antara Ketahun-Talang Arah-Batas Jambi, Tanjung Iman-Muara Saling-Ujan Mas-Batas Sumsel dan  Ketenong-Sungai Lisai-Muara Madras (Kab. Merangin, Jambi). Khusus Jalan Ketenong-Sungai Lisai-Muara Madras kalau bisa terealisasi akan menjadi urat nadi ekonomi bagi Bengkulu Utara dan Kabupaten Lebong (Pemekaran) dan diyakini dapat memacu perkembangan ekonomi lokal. Masalah utama pembukaan jalan ini adalah karena akan menembus TNKS,  tentu banyak pihak akan kontra dan menentang rencana ini. Kalau asumsinya bahwa pembukaan jalan mempermudah akses bagi illegal logging dan pencurian kayu, asumsi ini dengan mudah dapat dibantah karena sebenarnya faktor utama timbulnya illegal logging adalah karena rendahnya “Law efforcement”. Penulis sepakat bahwa kelestarian TNKS harus terjaga namun masyarakatpun harus sejahtera. Jika proyek pembangunan jalan      Ladia-Galaska yang menembus TN Gunung Leuser disetujui oleh Pemerintah Pusat dengan alasan karena kebutuhan, demikian pula dengan pembukaan jalan Ketenong-Muara Madras karena kebutuhan untuk menghilangkan keterisoliran. Kita tidak boleh membiarkan keterisoliran dan keterbelakangan saudara-saudara kita yang desanya sudah lebih dulu ada dibanding TNKS seperti Ketenong, Seblat Ulu (Kabupaten Lebong) Air Lisai, Tanjung Kasri, Renah Kemumu (Kabupaten Merangin, Jambi). Pembukaan jalan Ketenong-Muara Madras akan menjadi suatu keniscayaan apabila kita ingin mengembangkan Kabupaten Lebong sebagai wilayah pemekaran. Tanpa pembukaan jalan tersebut akan sulit mengembangkan Kabupaten Lebong ke depan.

Infrastruktur transportasi lainnya yang perlu mendapat perhatian adalah Pelabuhan Laut dan Bandara. Keduanya perlu ditingkatkan kondisi maupun kapasitasnya. Khusus mengenai Bandar udara kita ketinggalan sekali dengan Jambi, pada tahun 1998 penerbangan dari Jambi dan Bengkulu sama dalam satu hari hanya ada 3 kali penerbangan. Dalam tempo 5 tahun Jambi berhasil mengoptimalkan bandaranya menjadi 9 kali penerbangan dalam sehari dan 2 kali seminggu ke Batam dan Singapura. Hal inilah yang mendorong maraknya dunia investasi di propinsi Jambi. Disamping infrastruktur fisik transportasi, perlu juga mendapat perhatian adalah infrastruktur publik seperti jaringan telepon, air bersih dan listrik. Mudah-mudahan target operasional PLTA Ujan Mas pada Agustus 2005 dapat tercapai dan mampu mensuplai kebutuhan energi listrik seluruh Bengkulu.

Faktor dominan lainnya yang mempengaruhi daya tarik investasi adalah faktor keamanan. Faktor ini penting karena tanpa faktor keamanan usaha apapun tidak akan berjalan lancar. Gangguan keamanan yang mungkin timbul terhadap para investor adalah gangguan langsung terhadap jalannya proses produksi misalnya pencurian, pungutan liar, dan lain sebagainya. Disamping itu dapat juga terjadi gangguan yang bersifat tidak langsung seperti ekses dari kebijakan Pemerintah Daerah, seperti rencana  Kabupaten Kepahyang untuk mendirikan Kantor Bupati di tanah HGU milik investor perkebunan teh. Menurut Penulis rencana tersebut tidak tepat dan kurang bijaksana karena akan mengganggu ketenangan berusaha bagi Investor yang bersangkutan. Seharusnya kita dapat menjadi tuan rumah yang baik dengan mengerti apa keinginan para investor serta menjamin aktifitas usahanya dapat berjalan lancar tanpa gangguan berarti. Untuk menciptakan kondisi keamanan yang kondusif usaha yang dapat dilakukan antara lain adalah dengan menciptakan mobilitas atau kecepatan aparat dalam bertindak. Oleh sebab itu Pemerintah Daerah perlu mendukung tugas aparat kepolisian dengan mendirikan pos-pos keamanan sampai dengan kecamatan-kecamatan terpencil.

Jika ke-empat faktor di atas sudah terkondisi dengan baik tinggal bagaimana Pemerintah Daerah, DPRD, masyarakat dan dunia usaha lokal berkolaborasi secara positif. Setiap komponen daerah harus saling berkomunikasi dan bersinerji secara positif sehingga ada kesamaan aksi dan persepsi dalam menarik para investor. Disamping itu setiap komponen harus bersikap positif dan terbuka (welcome) atas kedatangan para investor dari luar.  Mudah-mudahan dunia investasi Kita bergairah kembali  dan berdampak positif dalam usaha meningkatkan kesejahteraan masyarakat Bengkulu. Welcome Investors!

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *